Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

Wednesday, May 6, 2009

Ijtimak Malaysia 2009 (9-12 Julai)

Dalam ijtimak di Tongi, elders telah beri beberapa pesanan untuk Malaysia berkenaan ijtimak pada 9, 10, 11 & 12 Julai 2009.
  • Semua orang lama diminta keluar 4 bulan sebelum ijtimak dan 40 hari selepas ijtimak atau sekurang2nya 40 hari sebelum ijtimak dan 4 bulan selepas ijtimak.
  • Ijtimak seperti hujan lebat. Tanah perlu digemburkan sebelum hujan supaya hujan yang turun dapat dimanfaatkan. Jika tanah tak disediakan, air tak dapat diserap ke bumi dan mengalir ke tempat lain dengan sia2 sahaja.
  • Jika kita tidak menyempurnakan tujuan ijtimak, fitnah yang besar akan melanda umat. Umat akan sangka agama ini hanyalah kumpul ramai2 dan mendengar ceramah kemudian bersurai tanpa sebarang amal dibuat.
  • Orang yang bekerja dengan majikan kena mohon cuti. Jika cuti tak lulus, buat rayuan. Jika tak dapat juga kena tambah masa di masjid sendiri. Balik dari pejabat terus ke masjid. Sediakan orang kampung pada amalan agama. Hidupkan masjid 24 jam dengan 4 amalan masjid Nabawi. Lewat malam baru baik ke rumah.
  • Sediakan isteri dan anak2 dengan fikir yang sama. Rumah2 perlu hidup dengan amalan masjid.
  • Sebaik2nya orang yang hadir ijtimak telah dikeluarkan 3 hari supaya dapat menjaga amal semasa ijtimak.
  • JANGAN kata ini ijtimak dunia tapi kata ini ijtimak Malaysia.
  • JANGAN sebut nama2 elders yang akan hadir secara khusus. Ini akan menyulitkan kedatangan mereka nanti.
  • JANGAN kata ratusan ribu akan datang, tapi kata ramai dijangka hadir.
  • Elders kata kerja untuk ijtimak perlu 500 batu maju kehadapan tapi iklan/propaganda mengenainya perlu 500 batu kebelakang.

Tambahan;
  1. Satu jemaah 4bulan dari Kuala Lumpur telah siap dan diluluskan untuk keluar ke Turki, akhir bulan ni.
  2. Satu jemaah lagi seramai 8 orang, juga dari Kuala Lumpur telah siap untuk keluar pada Mac ini. Route dicadangkan ke Perancis tetapi belum mendapat kelulusan Bangawali Masjid, Nizamuddin. (2Mac09-jemaah ini telah diputuskan untuk keluar di Netherlands)

InsyaAllah dan wallahua'lam.


Dipetik drp blog http://azharjaafar313.blogspot.com/2009/02/ijtimak-malaysia-2009-beberapa-pesanan.html

Friday, February 29, 2008

Orang-orang yang di do'akan oleh para Malaikat

Insya Allah berikut inilah orang – orang yang didoakan oleh para malaikat :

1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.
Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci”.

(Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)


2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia’”

(Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Muslim no. 469)


3. Orang – orang yang berada di shaf barisan depan di dalam shalat berjamaah.
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang – orang) yang berada pada shaf – shaf terdepan”

(Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra’ bin ‘Azib ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)


4. Orang – orang yang menyambung shaf pada sholat berjamaah (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam shaf).
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang – orang yang menyambung shaf – shaf”

(Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)


5. Para malaikat mengucapkan ‘Amin’ ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah.
Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang Imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalinn’, maka ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu”.

(Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 782)


6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat.
Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat akan selalu bershalawat ( berdoa ) kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia”

(Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)


7. Orang – orang yang melakukan shalat shubuh dan ‘ashar secara berjama’ah.
Rasulullah SAW bersabda, “ Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ‘ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ‘ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku?’, mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat’”

(Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)


8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.
Rasulullah SAW bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan’”

(Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda’ ra., Shahih Muslim no. 2733)


9. Orang – orang yang berinfak.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’. Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit’”

(Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)


10. Orang yang sedang makan sahur.
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat ( berdoa ) kepada orang – orang yang sedang makan sahur”

Insya Allah termasuk disaat sahur untuk puasa "sunnah "

(Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)


11. Orang yang sedang menjenguk orang sakit.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh”

(Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib ra., Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, “Sanadnya shahih”)

12. Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.
Rasulullah SAW bersabda, “Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain”

(Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)

Wanita Solehah

Rasulullah SAW, bersabda “Dunia adalah kesenangan sementara. Dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah wanita (istri) shalihah.” (HR.Muslim)

Wanita Solehah adalah pilihan Allah di dunia ini. Sifat-sifat mereka telah dipuji oleh Allah di dalam firman-Nya. “Sesungguhnya lelaki dan wanita yang muslim, lelaki dan wanita yg mukmin, lelaki dan wanita yang taat, lelaki dan wanita yang khusyu’, lelaki dan wanita yang bersedekah, lelaki dan wanitayang memelihara kehormatannya, lelaki dan wanita yang banyak meyebut nama Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al-Ahzab:35)

Rasulullah SAW. bersabda, “Wahai sekalian wanita, sesungguhnya yang paling baik diantara kalian akan masuk surga sebelum orang yang terbaik di kalangan lelaki. Mereka akan mandi, dan memakai minyak wangi dan menyambut suami-suaminya diatas keledai-keledai merah dan kuning. Bersama mereka anak-anak kecil. Mereka seperti batu permata yang berkilauan.” (Abu Syaikh)

Wanita solehah adalah anugerah yang luar biasa dari Allah. Rasulullah SAW. bersabda, “Diantara kebahagiaan anak adam, terdapat di dalam tiga hal, yaitu: wanita yang salihah, rumah yang baik dan kendaraan yang baik.” (ahmad). Sabda beliau yang lainnya, “Barang siapa diberi rezeki olehAllah seorang wanita yang salihah, maka Allah telah menolong separuh imannya. Karenanya bertakwalah kepada Allah untuk separuh yang lainnya.” (Thabrani, Hakim)

Demikian mulia seorang wanita solehah sehingga Abu Sulaiman Ad-Darani rah.a berpendapat, “Istri yang solehah bukan termasuk dunia karena istri itu menjadikanmu tempat (beramal demi) akherat”. Dan Muhammad bin Kaab berkata mengenai firman Allah, “Wahai rabb kami, berikanlah kami kebaikan di dunia.” (Al-Baqarah:201), bahwa itu adalah istri yang salihah.

Imam Dailami rah.a meriwayatkan bahwa wanita solehah akan di sebut-sebut oleh ahli langit sebagai ’syahidah’. Dan mereka sangat dirindukan oleh penduduk bumi dan langit. Bahkan ikan2 di lautan pun dengan senang hati mendoakan rahmat dan magfirah bagi mereka.

Pesan-Pesan dari Bay Wahab Tgl 4 Desember 2007 di Masjid Kebon Jeruk - JKT

Assalammu’alaykum wr. wb.
Berikut adalah beberapa pesan yang disampaikan oleh Bay Wahab orang yang telah lama dalam usaha da’wah Rasulullah SAW :

  1. kita dikirim oleh Allah SWT ke dunia ini dengan umur yang sangat singkat, namun dengan umur yang sangat singkat itu kita diperintahkan untuk mendapatkan dan membina akhirat yang selama-lamanya.
  2. Hendaknya kita jangan merasa menjadi orang indonesia, atau orang jakarta, atau orang pakistan, atau lainnya, tapi hendaklah kita merasa diri kita ini adalah umat Rasululah SAW.
  3. Rasulullah SAW adalah nabi terakhir yang dikirim untuk seluruh manusia seluruh alam hingga hari kiamat, nabi-nabi terdahulu hanya dikirim untuk kaumnya atau negaranya saja. dikatakan kepada nabi isa as itu ada manusi akufur kepada Allah, tapi nabi Isa as katakan aku tidak diutus kepada orang itu aku diutus hanya kepada kaum bani israil.
  4. Kini Rasulullah SAW telah wafat dan tak akan ada nabi lagi setelah Nabi Muhammad SAW, tapi risalah agama yang dibawa nabi SAW tetap harus sampai keseluruh alam hingga hari kiamat.
  5. Maka kita sebagai umat RAsulullah SAW mempunyai kewajiban untuk meneruskan tugas ini, tugas da’wah menyampaikan agam a ke seluruh alam.
  6. Baik yang muda, yang tua, yang sakit, yang sembuh, yang kaya, yang miskin, yang pejabat maupun rakyat,laki-laki maupun perempuan, yang awam atau bodoh maupun yang pintar sebagai umat Rasulullah SAW mempunyai kewajiban ini.
  7. Maka sekarang diri kita pertama kali MOHON AMPUN (BERISTIGHFAR) kepada Allah SWT, karena kita telah lupa dan melalaikan tugas ini.
  8. Ada manusia yang menganggap petani adalah pekerjaannya, supir taksi pekerjaanny a, pedagang adalah pekerjaann ya, bisnis adalah pekerjaann ya, padahal kerja umat RAsulullah SAW yang sesungguhnya adalah kerja da’wah.
  9. Maka kita MOHON AMPUN (BERISTIGHFAR) ke pada Allah SWT karena tidak menganggap kerja da’wah adalah pekerjaan kita.
  10. Kita harus merasa kasihan kepada orang amerika, orang eropa, dll yang tidak beriman kepada Allah SWT dan
    Rasul-Nya, karena apabila mereka mati maka mereka akan masuk kedalam kubur dengan 99 ular yang mematukinya sampai hari kiamat selanjutnya akan disiksa abadi di dalam neraka selama-lamanya.
  11. Hendaknya usaha da’wah kita kita niatkan seperti yang Rasulullah SAW niatkan yaitu untuk seluruh alam, dan bawa usaha ini dengan kasih sayang dan hikmah.
  12. aApabila kita niatkan seperti Rasululla h SAW maka do’a kita, bicara da’wah kita, ibadah kita akan mendapatkan pahala seluruh alam.
  13. Mendirikan shalat akan mendapatkan pahal a, tapi mengajak orang lain untuk mendirikan shalat akan mendapat pahala yang besar dari Allah SWT.
  14. Apabila kita buat kerja yang sama dengan kerja Rasulullah maka Allah SWT akan berikan pertolongan kepada kita sebagaimana Allah SWT tolong Rasulullah SAW dan do’a kita akan dikabulkan oleh Allah SWT.
  15. Apabila ada orang yang menentang kita dalam usaha da’wah maka sesungguhnya dia bukan menentang kita tapi menentang pekerja da’wah dan oleh Allah SWT akan diberikan 2 keputusan apakah dia akan diberikan hidayah atau dihancurkan oleh Allah SWT.
  16. Maka kita jangan takut kepada siapapun, hendaknya kita hanya takut kepada Allah SWT dan berharap hanya kepada Allah SWT.
  17. maka kita hendaknya sampaikan kalimat Laa ilaaha illallaah kepada seluruh manusia yang ada diseluruh alam.
  18. Apabila kita perbanyak bicarakan kalimat Laa ilaaha illallaah dan bicarakan kebesaran Allah, buat halaqah-hala qah untuk meningkatkan iman, membicaraka n akhirat, surga dan neraka sedetail-d etailnya, perbanyak ta’lim tentang keutamaan ber’amal, perbanyak dzikir dan do’a, kemudian baru shalat kita akan mempunyai ruh.
  19. Mari kita sama-sama niatkan dalam diri kita untuk buat kerja yang sama dengan kerja Rasulullah SAW yaitu kerja da’wah sampaikan kalimah iman kepada umat seluruh alam, sampaikan risalah Rasululla h SAW hingga hari kiamat dengan begitu Allah SWT akan tolong kita , Allah SWT akan selesaikan masalah-masalah kita.
* Dikutip dari : http://armandz.wordpress.com/2007/12/04/pesan-bay-wahab-4-desember-2007-di-jakarta/

Karkuzari Ijtima Thailand 2008

Inilah satu tulisan yang saya namai akannya KARKUZARI (laporan) mengenai Jord / Ijtima’ Jamaah Tabligh di Bangkok Thailand.

Kedatangangan

Kedatangan kami (para Karkun - Pendakwah) disambut dengan penuh ikramul muslimin oleh karkun tempatan di Airport Bangkok, kami dipersilahkan menaiki keretaa yang agak mewah dan kami bertanya / sembang dengan mereka sopir / driver berkata ini adalah mobil / kereta dari Karkun bisnisman (Koprat) yang membawa kami ke Markaz Bangkok (Thailand) (subhanAllah Kereta mereka guna dijalan Allah menjemput saudara seislam di Airport Pulang Balik)

Keadaan Bangkok

Saat kami masuk kawasan Markaz Tabligh di Bangkok dan sepanjang jalan dari Airport menuju ke Markaz, kami merasa kagum dan Memuji Allah Ta’ala & Mentahmidkan Allah , Subhanallah wal hamdulillah wabihamdihi kami seakan tidak percaya kami lihat hal dan ihwal keadaan umat Islam Thai di Bangkok kita dapat membedakan antara yang Islam dengan yang non Islam (Budha dan agama lain). Muslim lelaki dewasa, remaja dan anak-anak dengan berkopiah Islami dan berjubah sedangkan Muslimatnya dengan memakai purdah dan baju muslimat dengan menutut aurat. Mungkin dinegara Islam yang agak modern kita masih gagal untuk menbedakan yang mana islam dan yang mana kafir.

Keadaan Markaz

Keadaan lebih mengagumkan kami dimana kawasan Markaz dimana wujudnya bisnis Islami yang di monopoli oleh orang orang islam dan mereka meninggalkan perniagaan itu saat-saat seruan Azan dilaungkan memanggil untuk menyembah dan sujud pada Allah. Kami lihat kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia datang dan berhimpun semata kerana Allah, kasih sayang dan cinta sesama muslim dengan tidak membadakan kasta dan derjat dunia (kita semua Hamba kepada Allah )

Muslimin di Markaz

Kami saling bertanya khabar, berta’aruf bersama, mendengar ta’lim bersama, duduk dalam bayan bersama, solat berjamaah bersama dan makan berjamaah.

Intipati Bayan Jord Eldest (hari 1,2 & 3)

  1. Bayan Eldest bertumpu pada Kalimah Lailahaillallah Muhammadur Rasulullah (Tauhid, Sunnah Nabi) bagaimana kalimah itu dapat dihayati dalam kehidupan harian kita (ummah Islam)

  2. Kerisauan terhadap diri, tanggungan kita, isteri keluarga, kampung, negeri, negara, dan dunia. Akan bekal untuk kembali ke kampung akhirat

  3. Islam adalah satu produk yang baik kita (umat islam) kenalah promosikan dalam diri keluarga dan ummat ini dan manusia semua dengan Dakwah dan Tabligh dari itulah kita diminta membagi masa, harta dan diri kita untuk Agama Allah SWT.


Karkuzari sesama Karkun

  1. Karkun Thailand mengapa terjadi pembunuhan dan pengboman diselatan thai, jawab mereka:”sebenarnya yang melakukan pengeboman tersebut bukan semua dari Orang islam tetapi ada oknum yang tak puas hati dan meluahkan rasa dendam mereka untuk membuat kekacauan di Negeri Islam Selatan Thai yang tak ingin islam itu berkembang, tetapi mereka merencana sedemikian tetapi rencanaAllah lain, satu isu yang amat menarik sekarang bahawa Kerajaan Thailand (Pusat) menyeru Supaya diselatan thai mengamalkan Islam benar-benar

  2. Karkun Argentina : di Argentina pun Alhamdulillah Islam mulai meninggakat dan disana telah lama adanya Islam diantaranya dari keluarga yang terpengaruh seperti President Argetina tahun 2003 Carlos Saul MENEM (MENEM adalah Ayahnya yang beragama Islam MUNIM / MUNIR)

  3. Karkun Autralia: Di Autralia telah datang hadis yang nabi Sallahu’alaihi wassalam sabdakan yang mahfumnya: Diakhir zaman Islam hanya tinggal nama sahaja.” Ini telahpun berlaku di Autralia dimana saya pergi ziaran 1 orang nenek dan yang anak cucunya semuanya telah beragama kristian. Maka kami tanya kepada sang nenek kenapa ini bisa berlaku ia menjawab saya hanya pandai ucapkan kalimah Lailahaillah dan lain saya tidak tau karena suami saya tidak mengajarkan dan tidak mendakwahkan Islam kepada saya.

  4. Karkun dari Bangladesh Di sana kami hanya jumlah yang minoriti tetapi dengan izin Allah kami mampu menguasai Ekonomi bangladesh kesemuanya sekali ia umpamakan seperti Malaysia dan Indonesia yang memonopolikan ekonomi mereka adalah kaum cina. Kami tanya apa rahasianya: ia menjawab: Solat 5 waktu kami secara jamaah dan seperti Jumuat (ramai) dan kami solat Duha tiap hari dan kami jaga amalan maqami. (Subhanallah)

Wallahu’lam Subhanakallahu wabihamdika, Ashaduanlailahaila Anta Astagfiruka Wa atubu ilaih


Tgk.Beureunun

27 -01-1429 H


Tambahan :
NB : Kereta = Mobil

Dikutip dari : http://beureunun.blogspot.com/2008/02/karkuzzari.html

Thursday, February 28, 2008

Bayan Jemaah Australia

*Nota diambil secara short-note semasa bayan. Sila beritahu jika ada kesilapan.

Tempat : Masjid Sri Petaling
Tarikh : 4 Muharam 1429 selepas solat Maghrib

Ringkasan bayan;
(selepas memuji Allah dan berselawat kepada Nabi SAW dan membaca 2 potong ayat al Quran)

1. Allah SWT telah pilih kita untuk lahir sebagai orang Islam. Sebelum kita lahir ke dunia, kita tak pernah diberi pilihan untuk jadi muslim atau kafir. Semata-mata dengan sifat rahim Allah telah jadikan kita seorang muslim. Jadi kita kena syukur atas nikmat ini.

2. Allah telah hantar kita sebagai umat Muhammad SAW dengan satu maksud yang sangat besar iaitu sebagaimana maksud semua Nabi telah dihantar.

3. Allah telah jadikan manusia mempunyai jasad dan roh. Perkara paling berharga bagi manusia (supaya jasad dan roh ini dapat dimanfaatkan) adalah masa.. Seorang yang kematian isteri, boleh cari isteri yang lain. Seorang yang kematian anak, boleh dapat anak yang lain. Seorang yang rumahnya terbakar, boleh cari rumah yang lain. Seorang yang perniagaannya bankrap, boleh bina perniagaan yng lain. Tetapi seorang yang telah berlalu masanya, masa itu tak dapat diganti semula. Masa yang berlalu akan terus pergi buat selama-lamanya.

4. Allah begitu kasih kepada orang-orang beriman sehingga menjadikan sekecil-kecil perkara sebagai sebab penghapus dosa. Sehingga tercucuk duri pun Allah akan hapuskan dosa dari buku catatan. Diceritakan kisah seoarng raja kafir yang zalim ketika hendak mati berhajat untuk makan sejenis makanan yang sukar didapati. Allah telah perintah malaikat untuk dapatkan makanan itu untuk raja tersebut. Selepas makan, raja itu telah mati. Dalam kisah yang lain pula seorang alim yang warak ketika hendak mati telah meminta sedikit air. Apabila orang datang membawa air, Allah telah perintah kepada malaikat untuk tepis cawan sehingga air tertumpah dan orang warak itu mati tanpa dapat minum air. Kedua-dua malaikat telah datang mengadap Allah dan mengadukan hal tersebut. Allah berfirman kepada kedua malaikat tersebut bahawa ketika hidup, raja yang zalim tersebut dia telah buat satu kebaikan dan Allah hendak mambalas kebaikan tersebut di dunia dan azab yang kekal menantinya di akhirat kerana kekafirannya. Manakala orang warak tersebut telah berbuat satu dosa ketika hidup dan Allah hendak menghapuskan dosa tersebut ketika di dunia dan memberikan keselamatan kepadanya di akhirat.

5. Di akhirat nanti, orang yang dalam hatinya ada iman walau sebesar zarah akan dikeluarkan juga akhirnya dari neraka. Manakala orang kafir akan kekal di dalamnya.

6. Dakwah dan iman adalah dua perkara yang berkaitan. Adanya dakwah maka adalah iman. Jika dakwah tiada, maka iman akan keluar dari hati-hati manusia. Nabi Nuh as telah buat usaha dakwah selama 950 tahun siang dan malam. Kemudia baginda telah doa supaya jangan ditinggalkan di atas dunia ini walaupun satu orang kafir. Maka Allah telah hantar banjir yang besar dan menenggelamkan semua orang kafir. Yang terselamat hanyalah nabi Nuh as dan orang-orang yang beriman. Selepas kewafatan nabi Nuh as, dakwah telah terhenti. Dari keturunan orang yang beriman tadi akhirnya telah kembali kufur kepada Allah.

7. Pada kurun ke 18, orang British telah menakluki Australia dan mendapati ada 3 buah gurun yang besar di sana. Untuk menyelesaikan masalah pengangkutan mereka telah membawa 120 ekor unta untuk digunakan mengangkut barang-barang di padang pasir. Oleh kerana mereka tidak tahu mengendalikan unta maka mereka telah membawa ramai orang-orang Islam dari benua India yang kebanyakannya berketurunan afghan. Di kalangan pekerja-pekerja ini terdapat sejumlah bilangan dari golongan ulama. Ulama-ulama ini telah membina 60 masjid dan 3 daripadanya yang berusia lebih 100 tahun masih bertahan sehingga kini. Malangnya bila usaha dakwah ditinggalkan, keturunan dari mereka ini tidak kenal Islam walaupun nama-nama mereka seperti nama-nama Islam.

8. Pada suatu masa jemaah yang bergerak telah dibawa untuk jumpa 3 wanita tua dari keturunan pekerja-pekerja tersebut, yang masing-masing berumur lebih 85 tahun. Ternyata mereka tak tahu apa-apa mengenai amalan Islam kecuali kalimah Laailaha illallah, Muhammadur rasulullah. Bila mereka nampak jemaah memegang tasbih ditangan, mereka mengatakan bapa-bapa mereka dahulu memegang tasbih seperti kamu. Jemaah telah menghadiahkan kepada mereka tasbih tersebut dan mereka rasa sungguh gembira.

9. Laporan satu jemaah lagi yang buat usaha di Thursday Island. Di sana, 90% penduduknya adalah dari keturunan Islam. Teatapi amalan Islam telah lenyap dari diri mereka. Jemaah telah dibawa berjumpa seorang lagi wanita tua berusia lebih 80 tahun. Bila wanita tua ini terlihat saja kepada jemaah (yang dalam keadaan berjanggut, berjubah, berserban), maka dia telah menjerit dengan mangatakan, ‘Muslim has come, muslim has come.’ Dia telah keluarkan satu beg dari bawah katil dan tunjuk kepada jemaah peninggalan arwah bapanya berupa sejadah dan beberapa kitab selawat. Perempuan tua itu bercerita semasa umurnya 10 tahun, bapanya telah meninggal dunia. Sebelum itu dia sempat berwasiat, ‘You don’t be worry. Muslim will come and take of you because muslim are always taking care of each other.’ Perempuan tua itu menambah, ‘And I have been waiting for you (muslim) for 70 years.’
(*Pembayan telah sebak dan menangis. Juga, kami yang dengar bayan).

10. Pembayan memberi laporan bahawa beliau telah berpindah ke Australia dari Tanah Arab pada tahun 1968. Walaupun ada 80 ribu orang Islam di Melbourne tetapi hanya ada 1 masjid sahaja. Itupun dibuka 2 kali setahun untuk solat hari raya. Solat Jumaat hanya dibuat oleh 3-4 orang disebuah surau yang lain. Beliu ada mendengar laporan bahawa jemaah pertama dihantar ke Australia adalah pada tahun 1962. Jemaah ini hanya mampu menangis dan berdoa apabila melihat keadaan agama pada umat.

11. Jemaah seterusnya dihantar pada tahun 1973. Jemaah ni balik dan beri laporan kepada Hadraji bahawa orang Islam di Australia sudah tiada harapan. Hadraji tak berputus asa dan menghantar jemaah lagi pada tahun 1974 & 1975. Pada tahun 1975 ini, 3 orang tempatan (termasuk abang pembayan) telah sedia untuk menghidupkan amalan ziarah pintu ke pintu untuk bertemu dengan orang-orang Islam. Beberapa lama amalan ini berterusan, mereka telah bermesyuarat dan memutuskan untuk meminta kunci masjid. Kunci masjid telah diberi kepada mereka dengan senang hati dan semenjak itu masjid tersebut tidak pernah ditutup lagi sehingga ke hari ini.

12. Amal-amal masjid telah dihidupkan. Jemaah-jemaah telah dikeluarkan dan usaha telah berkembang. Alhamdulillah sekarang telah ada lebih 80 masjid dan surau di Melbourne. Madrasah-madrasah telah wujud. Anak-ank yang dulunya belajar di madrasah sekarang telah mengajar pula. Pembayan berkata dengan matanya sendiri dia dapat melihat apabila dakwah ditinggalkan, dari keturunan ulama akan lahir orang-orang kufar. Apabila dakwah dijalankan, dari keturunan kufar, lahirnya ulama.

13. Kerja ini bukanlah kerja main-main. Bukan kerja yang dibuat kalau suka, dan ditinggal kalau malas. Ini adalah kerja tanggungjawab kita sebagai umat Nabi SAW walaupun kita bukan Nabi. Ini adalah perintah Allah kepada kita.

14. Bila kita buat kerja ini, Allah pasti akan beri hidayat kepada manusia. Seluruh manusia sekarang sedang menanti-nanti kedatangan kita sebagai orang Islam kepada mereka (seperti kisah orang tua tadi).

15. Tashkil…

# Semasa tashkil pembayan menambah, jika seorang bapa menyuruh anaknya yang kecil terjun dari sebuah tempat tinggi dan dia akan menyambutnya; maka jika anaknya terjun, bapanya akan segera menyambut dan memeluk anaknya dengan kasih sayang dan tak akan biarkan anaknya jatuh ke bawah. Allah lebih-lebih lagi kasih kepada hambanya dan suruh kita terjun dalam usaha dakwah. Sekali-kali Allah tak akan biarkan kita jatuh dan mendapat kesusahan. Pasti Allah akan menyambut dan memeluk kita dengan rahmatnya.

Sambung tashkil…

Char mahene insyaAllah. Puri zindegi, puri alam.
(Dipetik daripada Blog Azhar Jaafar)

Wednesday, February 27, 2008

Mengapa Keluar 3 Hari, 40 Hari, 4 Bulan????

Jawapan:

Para Sahabat Keluar ke Jalan Allah:

Sebanyak 150 jemaah telah dihantar dari Madinah dalam masa 10 tahun tersebut. Baginda s.a.w. sendiri telah menyertai 25 daripada jemaah-jemaah tersebut. Sebahagian jemaah tersebut terdiri daripada 10,000 orang, ada yang 1,000 orang, 500 orang, 300 orang, 15 orang, 7 orang dan sebagainya. Jemaah-jemaah ini ada yang keluar untuk 3 bulan, 2 bulan, 15 hari, 3 hari dan sebagainya. 125 jemaah lagi sebahagiannya terdiri daripada 1000 orang, 600 orang, 500 orang dan sebagainya dengan masa 6 bulan, 4 bulan dan sebagainya. Sekiranya kita menghitung dengan teliti maka akan didapati purata masa yang diberikan oleh setiap sahabat untuk keluar ke jalan Allah dalam masa setahun ialah antara 6 hingga 7 bulan.
(Petikan Bayan Maulana Yusuf: USAHA RASULULLAH SAW DAN SAHABAT RA DALAM KEHIDUPAN MADINAH)

Sahabat r.hum keluar 5 tahun:

Pada tahun 627M satu rombongan sahabat-sahabat Nabi S.A.W yang diketuai oleh Wahab bin Abi Qabahah dikatakan telah mengunjungi Riau dan menetap selama 5 tahun di sana (sebelum pulang ke Madinah)
(dipetik dari kitab 'Wali Songo dengan perkembangan Islam di Nusantara',
oleh Haji Abdul Halim Bashah, terbitan Al Kafilah Enterprise, Kelantan, 1996, m/s 79, bab 9, ISBN 983-99852-8-0)

Sahabat r.hum keluar 6 bulan:

Bara r.a meriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w telah mengutus Khalid ibne-Walid r.a kepada penduduk Yamen untuk mengajak mereka masuk Islam. Bara berkata: Aku juga termasuk dalam jamaah itu. Kami tinggal di sana selama 6 bulan. Khalid r.a kerap mengajak mereka untuk masuk Islam, tetapi mereka menolak ajakannya.

Kemudian Rasulullah s.a.w mengutus 'Ali ibne-Abi Talib r.a ke sana dan memerintahkan kepada Khalid r.a. untuk kembali dengan seluruh jamaah kecuali salah seorang dari jamaah Khalid r.a. yang mahu menemani Ali r.a, maka ia boleh ikut serta dengan Ali r.a. Bara r.a berkata: Akulah yang menemani Ali r.a. selama di sana. Ketika kami betul-betul dekat dengan penduduk Yaman, maka mereka keluar dan dan datang kehadapan kami. Lalu Ali r.a. mengatur saf mereka untuk mengerjakan solah dan Ali yang menjadi imam dalam solah kami. Selesai solah, Ali r.a membacakan isi surat Rasulullah s.a.w kepada mereka. Setelah mendengar isi surat Rasulullah s.a.w itu maka seluruh Bani Hamdan masuk Islam.

Kemudian Ali r.a. menulis surat kepada Rasulullah s.a.w yang kandungannya memberitahukan tentang keislaman mereka kepada baginda. Setelah isi surat tersebut dibacakan kepada Rasulullah s.a.w, maka baginda langsung sujud syukur kepada Allah s.w.t. Setelah mengangkat kepala, baginda berdoa: Keselamatan bagi Bani Hamadan. Keselamatan bagi Bani Hamadan.
(Bukhari, Baihaqi, Bidayah-wan-Nihayah)
(Dipetik dari kitab Muntakhab Ahadith, bab Dakwah dan Tabligh, hadith 108)

Keluar 4 bulan:

Ibn Juraij berkata: “Ada seseorang yang menceritakan kepada saya bahawa pada suatu malam ketika Umar r.a sedang berkeliling (ghast/jaulah) di sekitar lorong-lorong kota Madinah, tiba-tiba beliau mendengar seorang wanita sedang mengungkapkan sya’ir:

Betapa panjang malam ini dan betapa gelap di sekelilingnya. Daku tidak boleh tidur kerana tiada yang tersayang yang boleh ku ajak bercumbu. Andai bukan kerana takut berdosa kepada Allah yang tiada sesuatu pun dapat menyamaiNya, sudah pasti ranjang ini goyang oleh yang lainnya.

Ketika Umar r.a mendengar syairnya itu, maka dia bertanya kepada wanita tersebut, “Apa yang terjadi padamu?” Wanita itu menjawab, “Saya sangat merindukan suami saya yang telah meninggalkan saya selama beberapa bulan.” Umar r.a. betanya, “Apakah kamu bermaksud melakukan hal yang buruk?” Wanita itu menjawab, “Saya berlindung kepada Allah.” Umar r.a. berkata, “Kuasailah dirimu! Sekarang saya akan mengutus orang untuk memanggil suamimu.”

Setelah itu Umar r.a. bertanya kepada anak perempuannya Hafsah r.anha, “Aku akan bertanya padamu mengenai sesuatu masalah yang membingungkan aku, mudah-mudahan kamu boleh memberi jalan keluar untukku. Berapa lama seorang wanita mampu menahan kerinduan ketika berpisah dari suaminya?” Mendengar pertanyaan itu, Hafsah r.anha menundukkan kepala merena merasa malu. Umar r.a. berkata, “ Sesungguhnya Allah tidak pernah merasa malu dalam hal kebaikan.” Hafsah menjawab sambil berisyarat dengan jari tangannya, “Tiga sampai empat bulan.”

Kemudian Umar r.a. menulis surat kepada setiap amir (pimpinan) pasukan tentera Islam supaya tidak menahan anggota pasukannya lebih dari 4 bulan.”
(Riwayat Abdur Razzaq dalam kitab Al-Kanz Jilidl VIII, m/s.308).

Ibnu 'Umar r.a mengatakan bahawa pada suatu malam Umar r.a. keluar (untuk melihat ehwal orang ramai), tiba-tiba beliau mendengar seorang wanita sedang bersya’ir:
Betapa panjang malam ini dan betapa gelap di sekelilingnya. Aku tidak boleh tidur kerana tiada yang tersayang yang boleh ku ajak bercumbu. Kemudian Umar r.a. bertanya kepada Hafsah r.anha, “Berapa lama wanita dapat bertahan tidak bertemu dengan suaminya?” Hafsah r.anha menjawab, “Enam atau empat bulan.” Maka Umar r.a. berkata,
“Untuk selanjutnya saya tidak akan menahan tentera lebih dari masa itu.”
(Hr. Baihaqi dalam kitabnya jilid IX m/s 29)
[seperti yang dipetik dari kitab Hayatus Sahabah, bab Al-Jihad]

Keluar 40 hari:

"Seorang lelaki telah datang kepada Saiyidina Umar ibnu Khattab r.a. maka Saiyidina Umar r.a. pun bertanya: Di manakah engkau berada? Dijawabnya: Saya berada di Ribat. Saiyidina Umar r.a. bertanya lagi: Berapa hari engkau berada di Ribat itu? Jawabnya tiga puluh hari. Maka berkata Saiyidina Umar r.a.: Mengapa kamu tidak cukupkan empat puluh hari?
(Kanzul Ummal, Juzuk 2 muka surat 288, dipetik dari kitab 'Risalah ad Dakwah - Apa itu Dakwah Tabligh', susunan Hj. Abdul Samad Pondok Al Fusani Thailand, terbitan Perniagaan Darul Khair, 1988)

Keluar 3 Hari:

Daripada Ibnu Umar r.a. berkata: Nabi s.a.w telah memanggil Abdul Rahman bin Auf r.a. lalu bersabda: Siap sedialah kamu, maka sesungguhnya aku akan menghantar engkau bersama satu jama'ah maka menyebut ia akan hadis dan katanya: Maka keluarlah Abdul Rahman hingga berjumpa dengan para sahabatnya, maka berjalanlah mereka sehingga sampai ke suatu tempat pertama bernama Daumatul Jandal, maka manakala ia masuk ke kampung itu ia mendakwah orang-orang kampung itu kepada Islam selama tiga hari. Manakala sampai hari yang ketiga dapat Islamlah Asbagh bin Amru al Kalbi r.a. dan adalah ia dahulunya beragama Nasrani dan ia ketua di kampung itu.
(Hadith riwayat Darul Qutni, dipetik dari kitab 'Risalah ad Dakwah - Apa itu Dakwah Tabligh', susunan Hj. Abdul Samad Pondok Al Fusani Thailand, terbitan Perniagaan Darul Khair, 1988)

Fatwa Ulama:
Oleh Mufti Ebrahim Desai, Darul Ifta, Madrasah In'aamiyyah, Camperdown, South Africa.

Istilah, 'Tashkil' (yang biasa digunakan dalam Jamaah Tabligh), bermaksud menyeru orang ramai kaum Muslimin untuk memberi masa mereka, untuk keluar ke Jalan Allah bagi tujuan pengislahan diri dan membuat kerja dakwah dan tabligh dalam jangka masa tertentu, seperti 3 hari, 10 hari, 15 hari, 40 hari, 4 bulan, 7 bulan, 1 tahun dan sebagainya.

Jangkamasa tersebut bukan satu kemestian tapi ianya hanya dianjurkan seperti mana seseorang yang mengikuti kursus kecemasan (first aid), misalnya, dianjurkan untuk mengikuti kursus praktikal selama sebulan. Walaupun tidak bermakna yang dia terus akan jadi doktor pakar, sekurang-kurangnya dia tahu apa yang perlu dia lakukan semasa kecemasan. Begitu juga, seseorang yang keluar ke Jalan Allah selama 3 hari, atau 40 hari, atau 4 bulan dan sebagainya, bukan bermakna dia telah menjadi seorang yang ahli atau pakar dalam Syariah, tapi sekurang-kurangnya dia tahu apa kehendak-kehendak asas dalam Syariah.

Lebih lama masa yang dia berikan untuk keluar ke Jalan Allah, lebih banyak dia akan belajar dan menyempurnakan dirinya sebagai seorang Mukmin. Jangkamasa keluar tersebut bukanlah kriteria yang diwajibkan mengikut Syariah.. Dan Allah Maha Mengetahui.

(Mufti Ebrahim Desai, FATWA DEPT, Jawapan No. 2611)

Mereka berkata: Orang-orang Tabligh membuat bida’ah berupa keluar di jalan Allah secara berjemaah dan membatasi masa keluar 3 hari, 40 hari dan 4 bulan.

Kami katakan:
Sesungguhnya keluar untuk memperbaiki diri adalah seperti keluar untuk menuntut ilmu dan hidayah. Juga seperti keluar untuk mendakwah manusia kepada Allah dan mengajar mereka hal-hal yang bermenafaat di dunia dan akhirat. Semuanya itu adalah keluar di Jalan Allah, apabila di landasi niat yang benar dan untuk mengapai redha Allah s.w.t, bukan untuk memperolehi harta dan penghormatan atau untuk hiburan, permainan dan kebatilan.

Adalah termasuk kelakuan bodoh atau pura-pura bodoh apabila ada orang yang mengingkari keluarnya Jemaah Tabligh untuk kepentingan hidayah bagi manusia, mengajar mereka, memperbaiki diri mereka dan mendidik rohani mereka.

Padahal Rasulullah s.a.w bersabda, “Sepetang atau sepagi keluar di jalan Allah, lebih baik daripada mendapatkan dunia dan segala isinya.

Juga sabda Rasulullah s.a.w, “Barangsaiapa mendatangi masjid ini, semata-mata untuk kebaikan yang ia ajarkan atau ia pelajari, laksana mujahid fi sabilillah.”

Dan banyak lagi hadith sahih dan hassan yang mengajarkan dan memberi semangat untuk keluar di Jalan Allah. Alangkah ajaibnya perkataan mereka bahawa keluarnya Jemaah Tabligh adalah bida’ah! Dan lebih ajaib lagi mereka berhujah terhadap “keluar fi sabilillah secara berjemaah adalah bida’ah” dengan jangkaan mereka bahawa Rasulullah s.a.w mengirimkan Mu'az r.a ke Yaman bersendirian saja dan tidak berjemaah.

Mereka lupa atau tidak tahu bahawa Rasulullah s.a.w tidak mengirimkan Mu'az r.a sendirian tetapi mengirimkan Abu Musa Al Asy’ary r.a bersamanya. Baginda s.a.w bersabda kepada keduanya, “Gembirakanlah mereka dan jangan kalian buat mereka lari. Mudahkan mereka dan jangan kalian menyusahkan. Bertolong-tolonglah kalian dan jangan berselisih.”

Juga beliau mengirimkan Ali bin Abi Talib dan Khalid bin Sa’id bin al Ash r.huma. Bersama mereka baginda s.a.w mengirimkan rombongan besar untuk dakwah, ta'lim dan memutuskan perkara diantara manusia.

Tentang pembatasan masa keluar yang mereka katakan sebagai Bidaah, adalah peraturan dakwah sebagaimana peraturan sekolah dan universiti yang mengenal batasan masa belajar dan kerehatan, untuk menyiapkan bekal dan perbelanjaan selama masa keluar. Apakah dengan demikian, orang-orang Tabligh dianggap membuat bida’ah kerena mereka mengatur hari-hari untuk kepentingan dan khuruj fi sabilillah (keluar di jalan Allah)?
Alhamdulillah.

Ditulis oleh Sheikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairy,
Mudir di Masjid Nabawi dan Universiti Madinah Al-Munawarrah
Dipetik dari buku “Menyingkap Tabir Kesalahfahaman Terhadap Jemaah Tabligh

Abu Abil Hasan (bekas pelajar Darul Uloom Faisalabad Pakistan) menulis:

Dakwah dan Tabligh ialah kerja para Anbiya. Dan inilah juga usaha yang telah dipertanggungjawabkan oleh Allah kepada seluruh umat Islam. Maksud kepada usaha ini ialah supaya seluruh manusia dapat mengamalkan keseluruhan agama. Usaha untuk menghidupkan agama ini tidak memadai dengan hanya memberi masa 3 hari 40 hari dan 4 bulan. Bahkan harus berjuang dan berjihad seumur hidup kita.
Ini telah dijelaskan oleh Allah SWT didalam al-Qur’an:

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri mereka dan harta mereka dengan (balasan) syurga untuk mereka (disebabkan) mereka berperang dijalan Allah: maka (diantara) mereka ada yang membunuh dan terbunuh. (Balasan Syurga yang demikian ialah) sebagai janji yang benar yang ditetapkan oleh Allah didalam Taurat Injil dan Al-Qur’an; dan siapakah lagi yang lebih menyempurnakan janjinya daripada Allah? Oleh itu bergembiralah dengan jualbelinya itu dan (ketahuilah bahawa) jualbeli (yang seperti itu) ialah kemenangan yang besar. (At-Taubah ayat 111).

Dalam ayat yang tersebut diatas Allah telah membeli dan meminta keseluruhan hidup orang-orang mukmin dan harta mereka untuk berjuang menegakkan agama Allah. Bukan setakat 4 bulan 40 hari sahaja. Tetapi malangnya pada hari ini umat Islam untuk melaksanakan satu perintah Allah yang paling besar iaitu sembahyang yang hanya mengambil masa beberapa minit sahaja pun sudah tidak ada masa kerana sibuk dengan fikir dan kerja-kerja dunia. Apa lagi untuk keluar seumur hidup.

Umat hari ini telah jauh daripada agama. Kemampuan yang ada pada mereka juga berbeza-beza. Melalui panduan Al-Qur’an dan Hadith, para Ulama’ dan masyaikh di dalam jemaah ini telah menetapkan nisab yang mampu diikuti oleh setiap umat Islam. Memanglah tidak ada ayat Al-Qur’an yang memerintahkan untuk keluar bertabligh selama 4 bulan dan 40 hari tetapi bilangan dan angka ini banyak terkandung didalam Al-Qur’an dan hadith.

Kenapakah angka-angka ini tercatit didalam Al-Qur’an dan Hadith? Sudah pasti ada hikmahnya di sebalik angka itu. Disini saya nukilkan beberapa riwayat dan pandangan Ulama’ betapa hikmahnya bilangan hari-hari tersebut.

1. Hikmah keluar tiga hari

i. Suasana amat mempengaruhi seseorang itu. Seorang yang duduk di dalam suasana Iman dan akhlak yang baik dan dipenuhi dengan ibadat dalam masa tiga hari sudah pasti akan membenihkan satu suasana dan kejernihan hati didalam sanubari seseorang itu. Di zaman Nabi s.a.w orang-orang kafir yang ditawan akan dikurung didalam masjid. Tujuannya ialah supaya mereka dapat melihat amalan-amalan orang Islam didalam masjid.

Didalam Sahih Bukhari jilid kedua bab Maghazi dinukilkan bahawa seorang lelaki bernama Sumamah bin Ausal dari banu Hanafiah telah ditawan dan diikat didalam masjid Nabawi. Selama 3 hari beliau telah melihat amalan orang Islam yang sibuk dengan amalan dakwah. belajar dan mengajar. beribadat dan berkhidmat diantara satu sama lain.

Hari yang pertama beliau ingkar untuk menerima Islam. Begitu juga pada hari yang kedua. Pada hari yang ketiga baginda Rasulullah s.a.w telah membebaskannya. Setelah dibebaskan dari tawanan beliau merasai sesuatu didalam hatinya lantas beliau mandi dan datang semula ke masjid Nabawi dan bertemu dengan baginda Rasulullah s.a.w dan terus memeluk agama Islam. Betapa besarnya perubahan pada diri Sumamah yang amat berkesan dengan amalan masjid pada ketika itu. Dalam masa tiga hari menjadi sumber hidayat kepadanya.

ii. Jemaah-jemaah yang dihantar oleh baginda Rasulullah s.a.w atas maksud dakwah atau berjihad akan diberi penerangan tertib dan usul bagaimana untuk berdakwah dan berperang. Diantaranya ialah:

• Jangan memerangi mereka sebelum diberi dakwah selama 3 hari.
• Jangan membunuh kanak-kanak. wanita dan orang-orang tua yang lemah dikalangan mereka.
• Jangan membuat kerosakan pada harta benda. tanam-tanaman dan membunuh binatang ternakan.

Kenapa baginda memberi tempoh selama 3 hari dengan memberikan dakwah terlebih dahulu sebelum memulakan peperangan?

Ini ialah pengajaran daripada baginda Rasulullah s.a.w bahawa didalam Islam tidak ada peperangan tanpa memberi dakwah terlebih dahulu. Melalui amalan dakwah selama 3 hari ini orang-orang kafir akan melihat muamalah dan akhlak orang-orang Islam terhadap orang kafir sendiri. Ini sudah pasti akan mempengaruhi jiwa mereka dan memeluk agama Islam.
Kisah ini terkandung didalam Hayatus Sahabah dimana baginda Rasulullah s.a.w telah menghantar Abdul Rahman bin Auf r.a. ke satu tempat bernama Daumatul Jandal sebagaimana berikut:

Sehingga beliau sampai ke Daumatul Jandal lantas beliau mendakwahkan kepada mereka (penduduk Daumatul jandal) selama tiga hari supaya memeluk agama islam. Maka pada hari yang ketiga Asbagh bin Amar Al Kalbi telah memeluk agama Islam. Beliau ialah seorang nasrani dan ketua di kalangan mereka.

iii. Hadzrat Zakaria a.s seorang Nabi yang telah tua. Apabila Allah s.w.t mahu mengurniakan anak kepadanya beliau bertanya “Wahai Allah apakah tandanya yang engkau akan mengurniakan anak kepadaku sedangkan aku telah tua? Allah s.w.t menjawab sebagaimana didalam Al-Qur’an:

Tandanya bagimu kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari kecuali dengan isyarat. Berzikirlah kepada Tuhanmu sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah diwaktu pagi dan petang (Ali Imran ayat 41)

Para mufassirin berkata tanda diterimanya doa Hadzrat Zakaria a.s ialah dia tidak boleh bercakap selama tiga hari kecuali dengan isyarat. Pada masa itu Allah s.w.t telah memerintahkan Hadzrat Zakaria a.s supaya berzikir sebanyak-banyaknya dan meninggalkan perkataan-perkataan dunia untuk menambah penghampirannya kepada Allah.

Daripada ayat ini para ulama’ berpendapat bahawa sekiranya manusia dapat mengasingkan diri keluar dijalan Allah selama tiga hari dengan membersihkan diri dari fakir dunia. meninggalkan percakapan dunia dan menyibukkan diri dengan amalan dakwah. beribadah. belajar dan mengajar dan duduk dalam suasana agama sudah pasti akan memberi kesan didalam hati sanubari seseorang itu. Cinta pada agama akan datang. manusia akan membersihkan diri daripada dosa. bertaubat dan lebih hampir kepada Allah s.w.t.

Demikianlah hikmah yang terdapat didalam masa tiga hari. Isyarat dari Al-Qur’an dan athar As-Sahabah inilah yang menjadi saranan oleh ahli jemaah Tabligh supaya setiap orang dapat melapangkan masa selama tiga hari. Disamping itu ia juga akan menimbulkan keghairahan untuk belajar agama dan mengislahkan diri sendiri.

(Abu Abil Hasan Abn Musa – Soal Jawab Agama: Membahaskan Masalah Terkini Dalam Fekah: Bahagian Pertama – Klang Book Centre - Cetakan Pertama 2004 – m/s 260 – 266)

Dalil dan hikmahnya keluar 40 hari

Ramai orang mempersoalkan masalah ini. Dari manakah orang-orang tabligh ini mengambil dalil supaya keluar 40 hari. Sebenarnya bilangan 40 hari ini telah banyak disebut didalam al-Qur’an dan Hadith. Keberkatan yang ada padanya telah jelas apabila Allah s.w.t sendiri telah memerintahkan Musa a.s supaya menambah bilangan hari untuk bermunajat kepada Allah sebagaimana didalam al-Qur’an.

Dan Kami telah menjanjikan kepada Musa (memberi Taurat) sesudah berlaku 30 malam dan Kami telah sempurnakan waktu yang telah ditetapkan oleh Tuhannya dengan sepuluh malam. Maka genaplah dari Tuhannya selama empat puluh malam (Al A’raf 142)

Begitulah juga didalam Surah al Baqarah ayat 51. Allah s.w.t menyebut dengan janji-Nya kepada Nabi Musa a.s untuk mengurniakan Taurat setelah bermunajat selama empat puluh malam.

Didalam hadith baginda s.a.w banyak sekali menyebut tentang bilangan 40 ini. Diantaranya ialah hadith yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud r.a beliau berkata daku mendengar Rasulullah s.a.w bersabda:

Sesungguhnya salah seorang daripada kamu dicipta didalam perut ibu selama 40 hari sebagai nutfah kemudian 40 hari menjadi seketul darah kemudian menjadi segumpal daging kemudian dihantar kepadanya seorang malaikat untuk meniupkan roh dan menulis kepadanya empat kalimat… (HR Muslim)

Dalam hadith yang lain ada dinukilkan bahawa barangsiapa bersembahyang selama 40 hari berjemaah tanpa ketinggalan takbiratul u-la akan mendapat dua jaminan. Satu keselamatan daripada neraka dan kedua bebas dari nifaq.

Hazdrat Abdullah bin Abbas r.a berkata dihari kematian anak lelakinya, "lihatlah berapa ramai orang yang berada diluar". Hambanya berkata orang ramai telah berkumpul. “Adakah telah cukup empat puluh orang?” Mereka menjawab “Ya, telah cukup”. Abdullah bin Abbas r.a berkata “hadirilah sembahyang jenazah kamu aku mendengar baginda s.a.w bersabda mana-mana orang Islam yang meninggal dunia dan disembahyangi oleh 40 orang yang tidak melakukan syirik melainkan telah menjadi hak kepada si mayat bahawa jaminannya pasti diterima”.

Dalam hadith yang lain baginda s.a.w bersabda:

“Barangsiapa mengikhlaskan dirinya kepada Allah selama 40 hari akan zahir sumber-sumber hikmah daripada hati melalui lidahnya”.

Banyak lagi hadith yang seumpama dengan ini yang menunjukkan keberkatan dan keutamaan pada tempoh atau bilangan 40 hari ini. Kita dapat melihat seorang yang keluar dijalan Allah melatihkan dirinya dalam menjalani ketaatan selama 40 hari sudah pasti amalan ini akan terus dilakukan ketika berada di rumah atau dikampungnya.

Daripada hadith-hadith dan pandangan nuraniah inilah maka masyaikh dan ulama’ di dalam usaha ini menyarankan supaya setiap orang dapat melapangkan masa selama 40 hari mempelajari usaha dakwah dan mengislahkan diri masing-masing.

(Abu Abil Hasan Abn Musa – Soal Jawab Agama: Membahaskan Masalah Terkini Dalam Fekah: Bahagian Pertama – Klang Book Centre - Cetakan Pertama 2004 – m/s 266 –)

Thursday, February 21, 2008

Keadaan Lapar Rasulullah SAW

Muslim dan Tarmidzi telah meriwayatkan dari An-Nu'man bin Basyir ra. dia berkata: Bukankah kamu sekarang mewah dari makan dan minum, apa saja yang kamu mau kamu mendapatkannya? Aku pernah melihat Nabi kamu Muhammad SAW hanya mendapat korma yang buruk saja untuk mengisi perutnya!

Dalam riwayat Muslim pula dari An-Nu'man bin Basyir ra. katanya, bahwa pada suatu ketika Umar ra. menyebut apa yang dinikmati manusia sekarang dari dunia! Maka dia berkata, aku pernah melihat Rasulullah SAW seharian menanggung lapar, karena tidak ada makanan, kemudian tidak ada yang didapatinya pula selain dari korma yang buruk saja untuk mengisi perutnya.

Suatu riwayat yang diberitakan oleh Abu Nu'aim, Khatib, Ibnu Asakir dan Ibnun-Najjar dari Abu Hurairah ra. dia berkata: Aku pernah datang kepada Rasulullah SAW ketika dia sedang bersembahyang duduk, maka aku pun bertanya kepadanya: Ya Rasulullah! Mengapa aku melihatmu bersembahyang duduk, apakah engkau sakit? jawab beliau: Aku lapar, wahai Abu Hurairah! Mendengar jawaban beliau itu, aku terus menangis sedih melihatkan keadaan beliau itu. Beliau merasa kasihan melihat aku menangis, lalu berkata: Wahai Abu Hurairah! jangan menangis, karena beratnya penghisaban nanti di hari kiamat tidak akan menimpa orang yang hidupnya lapar di dunia jika dia menjaga dirinya di kehidupan dunia. (Kanzul Ummal 4:41)

Ahmad meriwayatkan dari Aisyah ra. dia berkata: Sekali peristiwa keluarga Abu Bakar ra. (yakni ayahnya) mengirim (sop) kaki kambing kepada kami malam hari, lalu aku tidak makan, tetapi Nabi SAW memakannya - ataupun katanya, beliau yang tidak makan, tetapi Aisyah makan, lalu Aisyah ra. berkata kepada orang yang berbicara dengannya: Ini karena tidak punya lampu. Dalam riwayat Thabarani dengan tambahan ini: Lalu orang bertanya: Hai Ummul Mukminin! Apakah ketika itu ada lampu? Jawab Aisyah: Jika kami ada minyak ketika itu, tentu kami utamakan untuk dimakan.
(At-Targhib Wat-Tarhib 5:155; Kanzul Ummal 5:155)

Abu Ya'la memberitakan pula dari Abu Hurairah ra. katanya: Ada kalanya sampai berbulan-bulan berlalu, namun di rumah-rumah Rasulullah SAW tidak ada satu hari pun yang berlampu, dan dapurnya pun tidak berasap. Jika ada minyak dipakainya untuk dijadikan makanan. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:154; Majma'uz Zawatid 10:325)

Bukhari dan Muslim meriwayatkan pula dari Urwah dari Aisyah ra. dia berkata: Demi Allah, hai anak saudaraku (Urwah anak Asma, saudara perempuan Aisyah), kami senantiasa memandang kepada anak bulan, bulan demi bulan, padahal di rumah-rumah Rasulullah SAW tidak pernah berasap. Berkata Urwah: Wahai bibiku, jadi apalah makanan kamu? Jawab Aisyah: Korma dan air sajalah, melainkan jika ada tetangga-tetangga Rasulullah SAW dari kaum Anshar yang membawakan buat kami makanan. Dan memanglah kadang-kadang mereka membawakan kami susu, maka kami minum susu itu sebagai makanan. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:155)

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Aisyah ra. katanya: sering kali kita duduk sampai empat puluh hari, sedang di rumah kami tidak pernah punya lampu atau dapur kami berasap. Maka orang yang mendengar bertanya: Jadi apa makanan kamu untuk hidup? Jawab Aisyah: Korma dan air saja, itu pun jika dapat. (Kanzul Ummal 4:38)

Tarmidzi memberitakan dari Masruq, katanya: Aku pernah datang menziarahi Aisyah ra. lalu dia minta dibawakan untukku makanan, kemudian dia mengeluh: Aku mengenangkan masa lamaku dahulu. Aku tidak pernah kenyang dan bila aku ingin menangis, aku menangis sepuas-puasnya! Tanya Masruq: Mengapa begitu, wahai Ummul Mukminin?! Aisyah menjawab: Aku teringat keadaan di mana Rasulullah SAW telah meninggalkan dunia ini! Demi Allah, tidak pernah beliau kenyang dari roti, atau daging dua kali sehari. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:148)

Dalam riwayat Ibnu Jarir lagi tersebut: Tidak pernah Rasulullah SAW kenyang dari roti gandum tiga hari berturut-turut sejak beliau datang di Madinah sehingga beliau meninggal dunia. Di lain lain versi: Tidak pernah kenyang keluarga Rasulullah SAW dari roti syair dua hari berturut-turut sehingga beliau wafat. Dalam versi lain lagi: Rasulullah SAW telah meninggal dunia, dan beliau tidak pernah kenyang dari korma dan air.
(Kanzul Ummal 4:38)

Dalam riwayat lain yang dikeluarkan oleh Baihaqi telah berkata Aisyah ra.: Rasulullah SAW tidak pernah kenyang tiga hari berturut-turut, dan sebenarnya jika kita mau kita bisa kenyang, akan tetapi beliau selalu mengutamakan orang lain yang lapar dari dirinya sendiri. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:149)

Ibnu Abid-Dunia memberitakan dari Al-Hasan ra. secara mursal, katanya: Rasulullah SAW selalu membantu orang dengan tangannya sendiri, beliau menampal bajunya pun dengan tangannya sendiri, dan tidak pernah makan siang dan malam secara teratur selama tiga hari berturut-turut, sehingga beliau kembali ke rahmatullah. Bukhari meriwayatkan dari Anas ra. katanya: Tidak pernah Rasulullah SAW makan di atas piring, tidak pernah memakan roti yang halus hingga beliau meninggal dunia. Dalam riwayat lain: Tidak pernah melihat daging yang sedang dipanggang (maksudnya tidak pernah puas makan daging panggang). (At-Targhib Wat-Tarhib 5:153)

Tarmidzi memberitakan dari Ibnu Abbas ra. katanya: Rasulullah SAW sering tidur malam demi malam sedang keluarganya berbalik-balik di atas tempat tidur karena kelaparan, karena tidak makan malam. Dan makanan mereka biasanya dari roti syair yang kasar. Bukhari pula meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. katanya: Pernah Rasulullah SAW mendatangi suatu kaum yang sedang makan daging bakar, mereka mengajak beliau makan sama, tetapi beliau menolak dan tidak makan. Dan Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah SAW meninggal dunia, dan beliau belum pernah kenyang dari roti syair yang kasar keras itu. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:148 dan 151)

Pernah Fathimah binti Rasulullah SAW datang kepada Nabi SAW membawa sepotong roti syair yang kasar untuk dimakannya. Maka ujar beliau kepada Fathimah ra: Inilah makanan pertama yang dimakan ayahmu sejak tiga hari yang lalu! Dalam periwayatan Thabarani ada tambahan ini, yaitu: Maka Rasulullah SAW pun bertanya kepada Fathimah: Apa itu yang engkau bawa, wahai Fathimah?! Fathimah menjawab: Aku membakar roti tadi, dan rasanya tidak termakan roti itu, sehingga aku bawakan untukmu satu potong darinya agar engkau memakannya dulu! (Majma'uz Zawa'id 10:312)

Ibnu Majah dan Baihaqi meriwayatkan pula dari Abu Hurairah ra. katanya: Sekali peristiwa ada orang yang membawa makanan panas kepada Rasulullah SAW maka beliau pun memakannya. Selesai makan, beliau mengucapkan: Alhamdulillah! Inilah makanan panas yang pertama memasuki perutku sejak beberapa hari yang lalu. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:149)

Bukhari meriwayatkan dari Sahel bin Sa'ad ra. dia berkata: Tidak pernah Rasulullah SAW melihat roti yang halus dari sejak beliau dibangkitkan menjadi Utusan Allah hingga beliau meninggal dunia. Ada orang bertanya: Apakah tidak ada pada zaman Nabi SAW ayak yang dapat mengayak tepung? Jawabnya: Rasulullah SAW tidak pernah melihat ayak tepung dari sejak beliau diutus menjadi Rasul sehingga beliau wafat. Tanya orang itu lagi: Jadi, bagaimana kamu memakan roti syair yang tidak diayak terlebih dahulu? Jawabnya: Mula-mula kami menumbuk gandum itu, kemudian kami meniupnya sehingga keluar kulit-kulitnya, dan yang mana tinggal itulah yang kami campurkan dengan air, lalu kami mengulinya. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:153)

Tarmidzi memberitakan daiipada Abu Talhah ra. katanya: Sekali peristiwa kami datang mengadukan kelaparan kepada Rasulullah SAW lalu kami mengangkat kain kami, di mana padanya terikat batu demi batu pada perut kami. Maka Rasulullah SAW pun mengangkat kainnya, lalu kami lihat pada perutnya terikat dua batu demi dua batu. (At-Targhib Wat-Tarhib 5:156)

Ibnu Abid Dunia memberitakan dari Ibnu Bujair ra. dan dia ini dari para sahabat Nabi SAW Ibnu Bujair berkata: Pernah Nabi SAW merasa terlalu lapar pada suatu hari, lalu beliau mengambil batu dan diikatkannya pada perutnya. Kemudian beliau bersabda: Betapa banyak orang yang memilih makanan yang halus-halus di dunia ini kelak dia akan menjadi lapar dan telanjang di hari kiamat! Dan betapa banyak lagi orang yang memuliakan dirinya di sini, kelak dia akan dihinakan di akhirat. Dan betapa banyak orang yang menghinakan dirinya di sini, kelak dia akan dimuliakan di akhirat.'

Bukhari dan Ibnu Abid Dunia meriwayatkan dari Aisyah ra. dia berkata: Bala yang pertama-tama sekali berlaku kepada ummat ini sesudah kepergian Nabi SAW ialah kekenyangan perut! Sebab apabila sesuatu kaum kenyang perutnya, gemuk badannya, lalu akan lemahlah hatinya dan akan merajalelalah syahwatnya!
(At-Targhib Wat-Tarhib 3:420).

Wednesday, February 13, 2008

Iman

Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah S.A.W. bersabda: “Iman itu mempunyai 70 cabang lebih, yang tertinggi darinya ialah kalimat laailaaha illallah (tiada yang berhak disembah selain Allah), dan yang paling rendah adalah membuang duri dari jalan, dan malu adalah salah satu cabang dari iman”. (H.R. Muslim bab penjelasan tentang jumlah cabang-cabang iman…hal.153)

Dari Abu Bakar r.a. berkata, Rasulullah S.A.W. bersabda, “Barangsiapa yang menerima dariku satu kalimat yang pernah aku sampaikan kepada pamanku (Abu Thalib) pada saat menjelang kematiannya sedangkan ia menolaknya, maka kalimat itu (akan menjadi sebab) keselamatan baginya.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya 1/6)

Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah S.A.W. bersabda: “Perbaharuilah iman kalian!” Beliau ditanya, “Wahai Rosulullah, bagaimana kami memperbaharui iman kami?” Beliau bersabda: “perbanyaklah oleh kalian ucapan laa ilaaha illallah”. (H.R. Ahmad dan Thabrani, sedang isnad Ahmad adalah hasan – At-targhib II/415)

Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah S.A.W. bersabda, “Tidaklah seorang hamba Allah mengucapkan kalimat Laa ilaaha illallaah dengan ikhlas, melainkan dibukakan baginya pintu-pintu langit sehingga kalimat itu sampai ke Arsy Ilahi, selama ia meninggalkan dosa-dosa besar.” (HR. At Tirmidzi,)

Dari Abu huraiarh r.a. berkata, rasulullah saw bersabda ,”barang siapa mengucapkan Laa ilaaha illalaah, maka pada suatu hari nanti kalimat itu akan memberi manfaat padanya (menjadi sebab atas keselamatannya), yang sebelumnya ia menderita dengan azab yang menimpa ke atas dirinya.” (HR. Al Bazzar, Thabrani dan para perawinya shahih)


Tuesday, February 5, 2008

KITAB-KITAB ALLAH DAN NASIHAT NABI S.A.W KPD ABU ZAR

Abu Zar berkata bahawa saya bertanya kepada Rasullulah s.a.w., “Berapa banyakkah kitab-kitab yang telah diturunkan oleh Allah s.w.t? Baginda s.a.w menjawab, “Seratus suhuf (kitab-kitab kecil) dan empat buah kitab-kitab. Lima puluh suhuf diturunkan kepada Shith a.s, tiga puluh kepada Idris a.s, sepuluh kepada Ibrahim a.s dan sepuluh kepada Musa a.s sebelum Taurat. Selain daripada itu, empat kitab iaitu Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Quran yang suci telah diturunkan oleh Allah s.w.t. Abu Zar bertanya lagi, “Apakah yang terkandung dalam suhuf-suhuf yang diturunkan kepada Nabi Ibrahim a.s? Rasulullah s.a.w menjawab, “Suhuf-suhuf itu mengandungi peribahasa-peribahsa (nasihat), misalnya, “Wahai raja yang berkuasa dan bongkak, Aku tidak mengutuskan kamu hanya untuk mengumpulkan harta. Aku mengutuskan kamu untuk menghalang aduan orang yang teraniaya daripaaada sampai kepadaKu. Kamu hendaklah menyelesaikan aduan itu terlebih dahulu kerana Aku tidak menolak aduan orang yang dizalimi, walau dia seorang yang kafir sekalipun.”

Sambungan penerangan Rasulullah s.a.w kepada Abu Zar, “Dalam suhuf-suhuf itu juga disebutkan bahawa adalah menjadi tanggungjawab seseorang yang waras (selagi dia tidak hilang akal) untuk membahagikan masanya kepada tiga bahagian. Sebahagian untuk beribadat kepada Allah s.w.t, sebahagian untuk bermuhasabah (menghitung diri) dengan merenungkan sebanyak mana amalan baik yang telah dilakukannya dan sebanyak mana amalan buruk yang telah dilakukannya. Sebahagian lagi adalah untuk mencari nafkah yang halal. Mustahak juga bagi orang yang berakal untuk menjaga masanya, sentiasa berfikir untuk memperbaiki keadaannya dan menjaga lidahnya daripada percakapan-percakapan yang sia-sia serta tidak berfaedah. Sesiapa yang sentiasa bermuhasabah terhadap percakapannya, nescaya lidahnya akan kurang mengeluarkan perkataan yang tidak berfaedah. Seseorang yang berakal janganlah bersafar melainkan untuk tiga tujuan iaitu untuk mencari nafkah ataupun untuk mencari kerehatan yang diharuskan.” Saya (Abu Zar) bertanya lagi, “Ya, Rasulullah, bagaimana isi kandungan yang terdapat dalam suhuf-suhuf yang diturunkan kepada Nabi Musa a.s?” Rasulullah s.a.w bersabda, “Keseluruhan isi kandungan suhuf-suhuf itu ialah kata-kata nasihat. Contohnya, ‘Aku hairan dengan seseorang yang yakin akan kematiannya tetapi masih berseronok dengan sesuatu perkara ( ini adalah kerana, seseorang yang yakin bahawa dia akan mati misalnya kerana telah dihukum gantung, tidak lama lagi akan menaiki tali pergantungan maka dia tidak mungkin dapat berseronok dengan apa-apa perkara sekalipun). Aku hairan dengan seseorang yang yakin tentang kematiannya tetapi masih dapat berketawa. Aku hairan dengan dengan seseorang yang memerhatikan musibah-musibah, pertukaran-pertukaran dan perubahan mendadak yang berlaku di dunia ini setiap masa tetapi masih berasa tenang dengan kehidupan dunia. Aku hairan dengan seseorang yang percaya dengan takdir tetapi masih berdukacita dan bersusah hati. Aku hairan dengan orang yang percaya bahawa tidak lama lagi dia akan dihisab tetapi masih tidak melakukan amalan yang baik.’ Abu Zar berkata berkata lagi, “Ya Rasulullah, nasihatilah saya.” Pertama-tamanya Baginda s.a.w menasihati beliau supaya bertakwa. Baginda s.a.w menerangkan bahawa takwa adalah asas dan tunjang segala perkara. Abu Zar berkata lagi, “Tambahkanlah lagi (nasihat) untuk saya.” Rasulullah s.a.w bersabda, “Hendaklah kamu mengambil berat untuk membaca al-Quran dan berzikrullah, kerana membaca al-Quran menjadi nur di dunia ini dan bekalan untuk akhirat.” Abu Zar terus meminta tambahan nasihat dan Baginda s.a.w memberitahu, “ Elakkanlah diri daripada banyak ketawa kerana banyak ketawa akan mematikan hati dan wajah akan hilang seri.” (Banyak ketawa memudaratkan rohani dan jasmani). Abu Zar meminta untuk ditambah lagi. Rasulullah s.a.w bersabda, “Teruskan jihad kerana jihad adalah ‘rohbaniah’ umatku.” (rohbaniah adalah amalan rahib iaitu orang di kalangan umat terdahulu yang telah memutuskan semua hubungan keduniaan dan hidup hanya untuk Allah s.w.t)

Abu Zar meminta nasihat lagi dan Rasulullah s.a.w bersabda, “bergaullah dengan orang miskin dan fakir, jadikanlah mereka sahabatmu dan duduklah bersama mereka,” Apabila Abu Zar meminta nasihat lagi, Rasulullah s.a.w pun bersabda, “Lihatlah orang yang rendah daripada kamu (supaya amalan bersyukur menjadi kebiasaanmu) dam jangan melihat mereka yang lebih tinggi darjatnya daripada kamu, jika tidak mungkin kamu akan memandang rendah nikmat-nikmat Allah s.w.t ytang telah diberikan kepadamu.”

Apabila Abu Zar meminta nasihat lagi, Rasulullah bersabda, “Hendaklah melihat kesalahanmu sendiri supayaa menjadi benteng dirimu daripadaa mencaci orang lain dan jangan berusaha untuk mengambil tahu keaiban orang lain sedangkan kamu sendiri terlibat dengan perkara itu. Untuk sabitkan kamu bersalah sudah memadai dengan kamu mengambil tahu keaiban orang lain sedangkan keaiban itu terdapat pada dirimu sendiri, walaupun kamu tidak menyedari keaiban itu. Kamu akaan bersalah juga sekiranya kamu menuding jari ke arah keaiban orang lain sedangkan kamu sendiri melakukan keaiban itu.” Setelah itu Rasulullah s.a.w menepuk dada Abu Zar dengan tangannya lalu bersabda, Wahai Abu Zar, tidak ada kebijaksanaan yang menyamai perancangan yang baik dan tidak ada takwa yang menyamai meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan dan tidak ada kemuliaan yang dapat menandingi akhlak yang mulia.”
(Dalam menterjemahkan hadith ini, kefahaman dan maksud lebih diutamakan daripada makna perkataan demi perkataan dari segi bahasa).

Dipetik daripada Fadhilat Al-Quran - Himpunan Kitab-kitab Fadhail Amal.
Dikarang Oleh: Syaikhul Hadith Maulana Muhammad Zakariyya

Niat

Rasulullah s.a.w bersabda: “Sesungguhnya setiap amal itu bergantung kepada niat. Dan bagi setiap orang apa yang diniatkannya. Barangsiapa berhijrah kerana Allah dan rasulNya, maka hijrahnya itu adalah untuk Allah dan RasulNya. Dan barangsiapa berhijrah kerana mendapatkan keduniaannya dan wanita yang akan dinikahinya, maka hijrah itu adalah untuk apa (maksud) yang dihijrahkannya.”

Menurut Shaikhulhadis Maulana Muhammad Zakariyya, “Ini adalah sebuah hadis yang lengkap. Setengah ulamak mengatakan bahawa ini merupakan separuh daripada segala ilmu. Tetapi bagi pendapatku, hadis ini adalah sebagai intipati daripada apa yang dimaksudkan oleh “tasauf”. Ia mengandungi dua ayat dan pemikiran yakni pertamanya bahawa asas bagi seiap amal ialah niat dan seorang itu akan memperolehi dengan apa yang diniatkannya. Kebanyakan ulama telah berkata bahawa yang kedua itu adalag untuk memperkuatkan maksud yang pertama, tetapi ia mungkin juga ada maksud yang berasingan. Bagiku maksud yang ini lebih sesuai kerana ia menunjukkan bahawa apabila seseorang melakukan amal-amal kebaikan dengan niat yang berbagai-bagai, maka dia akan diberi pahala kepada setiap amal kebaikannya itu.”

Beliau juga pernah ditanya oleh seseorang tentang apa yang dimaksudkan dgn tasauf? Apakah hakikatnya?

Jawab beliau , “Semuanya itu ialah memperbaiki niat seseorang. Tidak ada lain. Permulaannya ialah innamal’amalubinniat - Sesungguhnya segala amal diukur (ditentukan) daripada niat dan berakhir dengan “Bahawa kamu sembah Allah seolah-olah kamu melihatNya.”

Dipetik daripada Himpunan Kitab-kitab Fadhail Amal.

Dikarang Oleh: Syaikhul Hadith Maulana Muhammad Zakariyya

Monday, February 4, 2008

Isteri Rasulullah SAW

Aisyah Binti Abu Bakar rha - Puteri Sahabat Nabi, Istri Nabi

Seorang gadis kecil periang berumur sembilan tahun sedang gembira bermain-main dengan teman-temannya. Rambutnya awut awutan dan mukanya kotor karena debu. Tiba-tiba beberapa orang yang sudah agak tua muncul dari sebuah rumah di dekat situ dan datang ke tempat anak-anak tadi bermain-main. Mereka lalu membawa anak gadis itu pulang, memberinya pakaian yang rapi, dan malam itu juga, gadis itu dinikahkan dengan laki-iaki paling agung di antara manusia, Nabi ummat Islam. Suatu penghormatan paling unik yang pernah diterima seorang wanita. Aisyah adalah salah seorang putri tersayang Sayidina Abu Bakar ra, sahabat Nabi yang setia, yang kemudian menggantikan Nabi sebagai Khalifah Islam yang pertama.

Aisyah rha. lahir di Mekkah 614 Masehi, delapan tahun sebelum permulaan zaman Hijrah. Orangtuanya sudah memeluk agama Islam. Sejak mulai kecil anak gadis itu telah dididik sesuai dengan tradisi paling mulia - agama Islam - dan dengan sempurna dipersiapkan dan diberinya hak penuh untuk kemudian menduduki tempat yang mulia. Ia menjadi istri Nabi selama sepuluh tahun. Masih muda sewaktu dinikahkan dengan Nabi, tetapi ia memiliki kemampuan sangat baik sehingga dapat menyesuaikan diri dengan tugas barunya. Kehadirannya membuktikan bahwa ia seorang yang cerdas dan setia, dan sebagai istri, sangat mencintai tokoh dermawan paling besar bagi umat manusia.

Di seluruh dunia, ia diakui sebagai pembawa riwayat paling otentik bagi ajaran Islam seperti apa yang telah disunahkan oleh suaminya. Ia di anugerahi ingatan yang sangat tajam, dan mampu mengingat segala pertanyaan yang diajukan para tamu wanita kepada Nabi, serta juga mengingat segenap jawaban yang diberikan oleh Nabi. Diingatnya secara sempurna semua yang disampaikan Nabi kepada para delegasi dan jemaah di masjid. Karena kamar Aisyah itu bersebelahan dengan masjid, dengan cermat dan tekun ia mendengarkan dakwah, ta'lim, dan mudzakarah Nabi dengan para sahabat dan orang-orang lain. Ia mengajukan juga pertanyaan-pertanyaan kepada Nabi tentang soal-soal yang sulit dan rumit sehubungan dengan ajaran agama Islam. Hal-hal inilah yang menyebabkan ia menjadi ilmuwan dan periwayat yang paling besar dan paling otentik bagi sunnah Nabi dan ajaran Islam.

Aisyah tidak ditakdirkan hidup bersama-sama dengan Nabi untuk waktu yang lama. Pernikahannya itu berlangsung hanya sepuluh tahun saja. Tahun 11 Hijrah, 632 Masehi, Nabi wafat dan dimakamkan di kamar yang dihuni Aisyah. Nabi digantikan oleh seorang sahabat yang setia, Abu Bakar ra, sebagai khalifah islam yang pertama. Aisyah terus menduduki urutan pertama, dan setelah Fathima rha. meninggai dunia di tahun 11 Hijrah, Aisyah dianggap sebagai wanita yang paling penting di dunia Islam. Tetapi ayahnya, Abu Bakar, tidak berumur panjang. Ia meninggal dunia dua setengah tahun setelah wafat Nabi. Selama kekuasaan Umar al-Faruq, khalifah yang kedua, Aisyah menduduki posisi sebagai ibu utama di seluruh daerah-daerah Islam yang secara cepat makin meluas. Orang datang untuk meminta nasihat-nasihatnya yang bijaksana tentang segala hal yang pen ting. Umar terbunuh dan kemudian Khalifah Usman.

Dua peristiwa kesyahidan tersebut telah mengguncangkan sendi-sendi Islam, dan menjurus kepada perpecahan yang tragis di kalangan umat Islam. Keadaan itu sangat merugikan agama yang sedang menyebar luas dan berkembang dengan cepat, yang pada waktu itu telah menjalar sampai ke batas pegunungan Atlas di sebelah Barat, dan ke puncak-puncak Hindu Kush di sebelah Timur. Aisyah tidak dapat tinggal diam sebagai penonton dalam menghadapi oknum-oknum pemecah-belah itu. Dengan sepenuh hati ia membela mereka yang menuntut balas atas kesyahidan khalifah yang ketiga. Di dalam Perang Unta, suatu pertempuran melawan Ali, khalifah yang keempat, pasukan Aisyah kalah dan ia terus mundur ke Madinah di bawah perlindungan pengawal yang diberikan oleh putra khalifah sendiri. Beberapa orang sejarawan yang menaruh minat terhadap peristiwa itu, baik yang Muslim maupun yang bukan, memberikan kritik kepada Aisyah dalam pertempuran melawan Ali. Tetapi tidak seorang pun yang meragukan kesungguhan hati dan keyakinan Aisyah untuk menuntut balas bagi darah Usman.

Aisyah menyaksikan berbagai perubahan yang dialami oleh Islam selama tiga puluh tahun kekuasaan khalifah yang saleh. Ia meninggal dunia tahun 678 Masehi. Ketika itu kekuasaan berada di tangan Muawiyah. Penguasa ini amat takut kepada Aisyah dengan kritik-kritiknya yang pedas berkenaan dengan negara Islam yang secara politis sedang berubah itu. Ibu Utama agama Islam ini terkenal dengan bermacam ragam sifatnya kesalehannya, umurnya, kebijaksanaannya, kesederhanaannya, kemurahan hatinya, dan kesungguhan hatinya untuk menjaga kemurnian riwayat sunnah Nabi. Kesederhanaan dan kesopanannya segera menjadi obor penyuluh bagi wanita Islam sejak waktu itu juga. Ia menghuni ruangan yang berukuran kurang dari 12 X 12 kaki bersama-sama dengan Nabi. Ruangan itu beratap rendah, terbuat dari batang dan daun kurma, diplester dengan lumpur. Pintunya cuma satu, itu pun tanpa daun pintu, dan hanya ditutup dengan secarik kain yang digantungkan di atasnya.

Selama masa hidup Nabi, jarang Aisyah tidak kekurangan makan. Pada malam hari ketika Nabi mengembuskan napasnya yang terakhir, Aisyah tidak mempunyai minyak. Waktu Khalifah Umar berkuasa, istri dan beberapa sahabat Nabi mendapatkan tunjangan yang cukup besar tiap bulannya. Aisyah jarang menahan uang atau pemberian yang diterimanya sampai keesokan harinya, karena semuanya itu segera dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkannya. Pada suatu hari di bulan Ramadhan, waktu Abdullah ibn Zubair menyerahkan sekantung uang sejumlah satu lakh dirham, Aisyah membagikan uang itu sebelum waktu berbuka puasa.

Aisyah pada zamannya terkenal sebagai orator. Pengabdiannya kepada basyarakat, dan usahanya untuk mengembangkan pengetahuan orang tentang sunnah dan fiqh, tidak ada tandingannya di dalam catatan sejarah Islam. Jika orang menemukan persoalan mengenai sunnah dan fiqh yang sukar untuk dipecahkan, soal itu akhirnya dibawa kepada Aisyah, dan kata kata Aisyah menjadi keputusan terakhir. Kecuali Ali, Abdullah ibn Abbas dengan Abdullah ibn Umar, Aisyah juga termasuk kelompok intelektual di tahun-tahun pertama Islam.

Ibu Agung Agama Islam ini mengembuskan napas yang terakhir 17 Ramadhan, 58 Hijriah (13 Juli, 678 Masehi). Kematiannya menimbulkan rasa duka terutama di Madinah dan di seluruh dunia Islam. Aisyah rha. bersama Khadijah rha. dan Fathima az-Zahra rha. dianggap sebagai wanita yang paling menonjol di kalangan wanita Islam. Kebanyakan para ulama menempatkan Fathimah rha. di tangga teratas, diikuti oleh Khadijah rha, dengan Aisyah rha sebagai yang terakhir. Tapi ulama ibn Hazim malah menempatkan Aisyah rha. nomor dua sesudah Nabi Muhammad SAW, di atas semua istri, sahabat, dan rekan-rekannya. Menurut Allama ibn Taimiya, Fathimahlah yang berada di tempat teratas, karena ia itu anak tersayang Nabi, Khadijah itu agung karena dialah orang pertama yang memeluk agama Islam. Tetapi, tidak seorang pun yang menandingi Aisyah mengenai peranannya dalam menyebarluaskan ajaran Nabi.

Sunday, February 3, 2008

Kisah Para Sahabat

BILAL DAN PENDERITAANNYA

Bilal r.a.hu adalah salah seorang daripada sahabat-sahabat Nabi Muhammad s.a.w. yang paling terkenal. Dia merupakan muazzin atau juru azan di Masjid Nabi. Dia merupakan seorang hamba Habshi yang dimiliki oleh seorang kafir di Mekah. Pengislamannya telah menimbulkan kemarahan yang tidak keruan didalam hati pemiliknya. Dia pun diazabkan tanpa perikemanusiaan. Umayyah bin Khalaf, pemusuh ISLAM yang terkemuka yang memiliki Bilal akan membaringkannya atas pasir yang panas membakar serta meletakkan batu besar diatas dadanya sehingga ia tidak dapat menggerakkan tulangnya yang lapan kerat. Kemudian berkatalah Umayyah kepada Bilal:"Tinggalkanlah agamamu. Kalau tidak matilah kamu dalam kepanasan matahari yang tegak."

Bilal menjawab dengan berkata:"Ahad"-(Tuhan Yang Esa)-"Ahad-(Tuhan Yang Esa)."

Pada waktu malam ia didera dengan cemeti sehingga badannya luka. Pada waktu siang pula, dia dibaringkan diatas pasir yang panas. Tuannya berharap yang ia akan meninggalkan agamanya atau pun mati akibat luka-luka dibadannya. Namun demikian Bilal masih tetap dengan pendiriannya yang teguh. Umayyah, Abu Jahal dan pengikut-pengikut mereka menyiksa Bilal secara bergilir-gilir. Akhirnya Abu Bakar telah menebuskannya dan dari sejak itu hiduplah ia sebagai seorang Muslim yang bebas. Semenjak ia dibebaskan, dia sentiasa berdampingan dengan Nabi Muhammad s.a.w. sehingga Baginda s.a.w. wafat. Selepas kewafatan Nabi Muhammad s.a.w., Bilal pun meninggalkan Kota Madinah.

Pada suatu ketika dia telah melihat Nabi Muhammad s.a.w. dalam mimpinya. Berkata Nabi Muhammad s.a.w. kepada Bilal: "Wahai Bilal, mengapakah kamu tidak melawatku?"

Sebaik-baik sahaja dia bangun dari tidurnya, dia pun bersiap-siap untuk berangkat ke Madinah. Setibanya dia dikota itu dia telah berjumpa dengan Hassan dan Hussain, cucunda Nabi Muhammad s.a.w. Mereka menyuruh dia berazan.Permintaan orang yang dicintainya itu tidak dapat ditolak. Apabila suara Bilal berkumandang diruang angkasa Kota Madinah, penduduk-penduduknya pun tanpa segan dan silu menghamburkan air mata mereka kerana teringat zaman keemasan yang telah mereka lalui semasa hidupnya kekasih mereka Nabi Muhammad s.a.w. Sekali lagi Bilal telah meninggalkan Kota Madinah dan akhirnya meninggal dunia di Damsyik pada tahun Hijiriah yang ke dua puluh.

Fadilat Zikir (Kelebihan Zikir)

Hadis 1
Diriwayatkan daripada Hazrat Yahya bin Talhah bin Abdullah katanya, Hazrat Talhah kelihatan bersedih, maka dia telah ditanya,"Mengapakah kamu ini?"Beliau berkata,"Aku mendegar Rasulullah S.A.W bersabda,'Sesungguhnya aku mengetahui satu kalimah yang sekiranya diucapkan oleh seseorang hamba ketika hampir meniggal dunia maka pasti ALLAH S.W.T akan menghilangkan penderitaan ketika maut, menyerikan cahaya (wajahnya) dan dia akan melihat pemandangan yang mengembirakannya dan (aku bersedih kerana) aku tidak mampu untuk bertanya mengenai perkara itu kerana kehebatan Baginda S.A.W sehingga wafat."Maka Hazrat Umar berkata,"Sesengguhnya aku mengetahui kalimah tersebut."Hazrat Talhah bertanya,"Apakah kalimah itu?"Jawab Umar"Sesungguhnya kami tidak mengetahui kalimah yang lebih agung daripada kalimah yang telah Baginda S.A.W menyuruh paman Baginda (Abu Talib) ucapkan iaitu Lailahaillallah. Kata Hazrat Talhah. "Demi ALLAH itulah kalimahnya." [Hadith Riwayat Imam Baihaqi]

Keterangan
Kalimah Toyyibah yang sememangnya mempunyai nur dan ketenagan dapat diketahui dan difahami daripada banyak riwayat. Dalam kitab 'Munabbihat' Imam Hafiz Ibnu Hajar rah. telah menukilkan daripada Hazrat Abu Bakar R.A bahawa terdapat lima macam kegelapan dan bagi setiap kegelapan tersebut ada lampu. Cinta dunia adalah gelap dan lampu bagi cinta dunia adalah takwa, dosa adalah gelap dan lampu bagi dasa adalah taubat, kubur adalah gelap dan lampu bagi kubur adalah Lailahaillallah Muhammadurrasullullah, akhirat adalah gelap dan lampu bagi akhirat ialah amalan soleh dan titian sirat adalah gelap dan lampu bagi titian ini ialah yakin.

Hazrat Rabiah 'Adawiyah rah. adalah seorang wali ALLAH yang mashur. Sepanjang malam beliau sibuk dengan mengerjakan solah. Ketika menjelang subuh beliau akan tidur sekejap sebelum solah subuh. Apabila tiba waktu solah subuh beliau bangun dengan cepat dalam keadaan gelisah sambil mencela dirinya sendiri,"Sampai bilakah kamu akan terus tidur?Masa untuk kamu berada dalam kubur hampir tiba, yang pasti (kamu) akan tidur sehingga sangkakala akan ditiupkan."Apabila hampir hendak meninggal dunia maka beliau telah mewasiatkan kepada pembantu rumah beliau,"Kafankanlah daku dengan baju bulu yang lusuh ini yang biasa ku pakai ketika mengerjakan solah tahajud. jangan beritahu kepada sesiapa pun tentang kematianku."Jenazah beliau telah diuruskan sebagaimana yang beliau wasiatkan. Pembantu rumah beliau itu telah melihat dalam mimpinya bahawa Hazrat Rabiah 'Adawiyah rah. berpakaian sangat cantik lalu dia bertanya,"Dimanakah baju lusuh yang digunakan untuk mengkafankan puan."Beliau menjawab,"Baju tersebut telah dilipat dan telah disimpan bersama amalan solehku."Pembantu rumah tersebut meminta supaya dia diberi nasihat maka kata beliau,"Hendaklah kamu berzikir sebanyak mungkin, dengan itu kamu akan dikagumi didalam kubur."

Fadilat Amal (Fadhilat Zikir)
Shaikhul Hadith Hazrat Maulana Muhammad Zakaria.


Hadis 2

Dari Abu Hurairah R.A meriwayatkan bahawa satu ketika baginda Rasulullah S.A.W datang kepada kami dan bersabda: Ambillah perisai untuk melindungi kamu! Para sahabat R.Anhum bertanya: Ya Rasulullah, adakah musuh akan datang? Baginda bersabda: Ambillah perisai untuk melindugi kamu dari api neraka. Bacalah : Subhanallah, Alhamdulillah, Laailahaillallah, Allahuakbar, Walahaulawalakuataillabillah, - Sesungguhnya kalimat ini akan datang pada hari kiamat kepada pembacanya dan akan melindunginya dari sebelah hadapanya, disebelah belakangnya, dikananya dan dikirinya dan inilah amal kebajikan yang sentiasa mendapat ganjaranya. (HR Tabrani. Majma`ul Bahrain).

Keterangan
Dalam hadith dinyatakan "Kalimat ini akan berada dihadapan pembacanya: bermaksud ialah dia akan menjadi penyokong dan pembela untuknya. Dan :berada disebelah belakang, kanan dan kirinya" bermaksud dia akan melindungi pembacanya dari segala azab dan siksa.

Mutakhab Ahadith
Hazrat Maulana Muhammad Yusuff Al-Kandahlawi.

Selamat Datang ke Blog Pejuang Islam

Assalamualaikum w.b.t,

Tuan-tuan yg mulia, saya bersyukur ke hadrat Allah swt kerana dapat diberi peluang untuk saya berkarya menggunakan blogspot ini untuk tujuan agama Islam. Semoga diharap pembaca blog ini dapat diberi pedoman dan hidayah Allah swt untuk sama2 kembali menguatkan dan memperjuangkan agama Allah.

Sekian, wassalam.